PERANG TELUK I
PERANG TELUK I
A. Kondisi
Politik Sebelum Perang Teluk I
Sebagai sumber utama
energi dunia fluktuasi harga minyak dunia akan sangat mempengaruhi perkembangan
ekonomi global. Hal ini juga sejalan dengan ketergantungan dunia atas minyak
bumi sebagai sumber energi masih sangat besar. Kondisi kritis di Asia Barat
dalam hal ini perilaku harga minyak dunia dipengaruhi baik dari faktor
fundamental (permintaan, pasokan, stok minyak, kapasitas produksi, cadangan
dunia, kemampuan kilang minyak dunia) maupun non fundamental (geopoltik,
kebijakan pemerintah, cuaca, bencana alam, pemogokan, kerusakan instalasi
rantai produksi, pelemahan nilai dollar, spekulasi). Ketidakstabilan politik
kawasan Asia Barat Pasca perang Dunia II berimplikasi pada perdangangan dan
presentase kenaikan harga minyak dunia mulai dari Suez
S11956-1957, embargo minyak perang Arab-Israel tahun 1973- 1974, revolusi Iran 1978-1979.Sebagai kawasan “Timur Tengah” kawasan orang-orang dan berada di tengah-tengah peta dunia gejolak politik kawasan ini memiliki keunikan dan ketertarikan sendiri dibandingkan kawasan bumi lain. Permasalahan-permasalahan transnasional seperti keamanan, politik ekonomi dan sosial menjadi isu hangat dan tidak ada habisnya untuk diperbincangkan. Permasalahan yang signifikan meliputi perkembangan senjata pemusnah masal (kasus Irak dan Iran), perdagangan narkotika, penyelundupan sejata dan terorisme. Kesemuanya merupakan permasalah global yang otomatis mempengaruhi kestabilan dunia Internasional.
Pengelolaan sumber Minyak
dan ketersediaan air bersih merupakan isu internal kawasan yang paling sunter
diperbincangkan keduanya menjadi bahan atau objek subur dalam kajian kawasan
tersebut pada jelang abad modern hingga saat ini. Disamping itu isu
Pan-Arabisme dan Fundamentalisme merupakan isu sensiitif yang telah berkembang
sejak awal abad dua puluh hingga sekarang. Sementara itu presentase
keterlibatan dunia Internasional terhadap isu-isu tersebut mencapai 70% dari
total konflik yang pernah ada. Dalam catatan sejarah keterlibatan asing di era
modern yang didominasi oleh Barat utamanya Amerika dan sukutu telah terjadi
jauh sebelum bentuk negara bangsa lahir di kawasan Timur Tengah. Konflik
imperium kuno antara Mesir, Persia, dan Bizantium dan konflik ideologi antara
tiga agama samawi, yaitu Islam, Kristen dan Yahudi merupakan bukti nyata
keterlibatan asing di dalam rumah tangga Timur Tengah. Fakta menariknya adalah
pada konflik Israel-Palestina pihak pribumi yang menjustifikasi pihak lain
sebagai pihak asing justru dijustifikasi balik sebagai pihak asing sementara
pihak lain mengklaim dirinyalah pribumi.
Munculnya Revolusi Islam di Iran tahun 1979
merupakan tahun terpenting dalam sejarah Iran modern hingga menjadi seperti
Iran sekarang. Di tahun itu terjadi revolusi pemerintahan di mana rezim
kerajaan Pahlevi yang dianggap sebagai rezim boneka
AS-tumbang & digantikan oleh sistem Republik Islam. Pasca revolusi
tersebut, muncul kekhawatiran di kalangan nasionalis Arab dan muslim Sunni
bahwa revolusi tersebut akan menyebar ke negara-negara Arab di sekitarnya.
Kekhawatiran terbesar terutama datang dari Irak yang wilayahnya memang
bersebelahan dengan Iran dan memiliki penganut Syiah berjumlah besar di
wilayahnya.
Ayatullah Khomeini pemimpin revolusi Islam di
Iran memang memiliki impian untuk menyebarkan pengaruh revolusinya ke
negara-negara Arab lainnya. Pertengahan tahun 1980 Khomeini menyebut bahwa
pemerintahan sekuler Irak adalah pemerintahan "boneka setan" dan
masyarakat muslim di Irak sebaiknya bersatu untuk mewujudkan revolusi Islam
seperti di Iran. Pernyataan Khomeini tersebut sekaligus sebagai respon dari
pernyataan Saddam pasca revolusi Islam Iran yang menyatakan bahwa bangsa Persia
(Iran) tidak akan berhasil membalas dendam kepada bangsa Arab sejak Pertempuran
al-Qadisiyyah pertempuran pada abad ke-7 yang dimenangkan oleh bangsa Arab
sekaligus menumbangkan Kerajaan Persia kuno.
Irak di bawah kendali Saddam Hussein dan
Partai Baath memiliki ambisi untuk menjadi kekuatan dominan di wilayah Arab di
bawah bendera Pan-Arabisme sejak meninggalnya Presiden Mesir Gamal A. Nasser.
Revolusi Islam yang terjadi di Iran tersebut dianggap sebagai penghalang karena
bertentangan dengan prinsip nasionalisme sekuler Arab. Selain untuk mencegah
menyebarannya revolusi Islam Irak juga berusaha mengambil keuntungan dengan
kondisi internal Iran yang tidak stabil pasca revolusi Islam untuk merebut
wilayah-wilayah yang menjadi bahan sengketa dengan Iran dan
menambah sumber minyak Irak.
B. Perang
Teluk I
Timbulnya Perang Teluk I (Perang Irak-Iran) Pertikaian
antara Irak dan Iran bukanlah soal baru. Sejak lama kedua Negara bertetangga
tersebut saling bermusuhan karena berbagai hal. Pertama antara bangsa Arab dan
bangsa Parsi selalu ada persaingan dan ketegangan Bangsa Arab maupun bangsa
Parsi tidak dapat menerima keunggulan atau dominasi yang lain. Kedua masalah
minoritas etnis pada zaman Syah Iran mendukung perjuangan otonomi suku Kurdi di
Irak sedangkan Irak mendukung minoritas Arab di Iran yang memperjuangan
kebebasan yang lebih besar atau bahkan pemisahan. Ketiga perbedaan orientasi
politik luar negeri sampai beberapa waktu lalu Irak adalah pro-Uni Soviet
sedangkan Iran pro-Barat. Akhirnya juga harus disebutkan masalah sengketa
wilayah yaitu Irak mengklaim kembali beberapa daerah Arab yang direbut dan
dikuasai oleh Iran.
Ketegangan
Irak-Iran sempat mereda berkat perjanjian Algiers pada tahun 1975 berdasarkan
perjanjian Algiers bahwa Iran akan menghentikan dukungannya pada pemberontakan
suku Kurdi dan perbatasan Shatt al-Arab digeser tepi Timur ke tengah perairan.
Irak sebenarnya kurang senang dengan penetapan perbatasan tersebut tetapi tidak
dapat menolaknya karena pada waktu itu Iran merupakan kekuatan dominan di
kawasan dan Irak menghadapi pemberontakan suku Kurdi yang didukung oleh
Teheran.
Dalam perkembangannya, sengketa antara Irak dan Iran
muncul kembali setelah Khomeini berkuasa. Hal ini dilatar belakangi oleh
beberapa faktor antara lain sebagai berikut:
1.
Ketika
Irak berada di bawah pemerintah Saddam Husein ingin mengembalikan daerah yang
pernah dikuasai oleh Kerajaan Babilonia di masa lampau. Menurut Sejarah masa
lalu negeri Irak merupakan pewaris dari Kerajaan Babilonia. Untuk mencapai
cita-citanya Irak melancarkan serangan ke Iran sehingga meletuslah Perang
antara Irak dengan Iran.
2.
Perbedaan
aliran antara kedua negara yaitu aliran Syi’ah (Iran) dan Sunni (Irak). Orang
Syi’ah di Iran mengajak orang-orang Syi’ah di Irak untuk memberontak
menumbangkan pemerintahan Saddam Hussein. Sebab Saddam Hussen di anggap anti
Islam.
3.
Pasukan
Irak berhasil menerobos perbatasan Iran pada tanggal 22 September 1980
dikarenakan masalah perbatasan yang berlarut-larut antara kedua negara.
4.
Irak
secara sepihak membatalkan perjanjian dengan Iran tanggal 22 September 1980.
Perjanjian Irak dengan Iran itu adalah Perjanjian Algier tahun 1975 mengenai
penguasaan bersama atas daerah Shat Al-Arab yang kaya akan minyak.
5.
Kekhawatiran
Saddam Hussein atas perlawan Syi’ah yang dibawa oleh Ruhollah Khomeini dalam
Revolusi Iran.
6.
Ambisi
Sadam Husen untuk tampil sebagai orang nomor satu dan dihormati didunia Arab.
7.
Percobaan
pembunuhan terhadap pejabat Irak, yaitu Deputi Perdana Menteri Irak Tariq Aziz.
Irak segera bertindak dan menangkap sejumlah orang yangtelah terlibat dalam hal
ini. Irak beranggapan bahwa agen Iranlah yang terlibat dan mendeportasi ribuan
warga Syia’ah berdarah kemudian Iran keluar dari Irak.
Persoalan pokok
dalam perang Irak-Iran atau Krisis Teluk I adalah maksud Irak dan Iran dalam
peperangan ini. Seperti diterangkan oleh Menteri Pertahanan Irak Adnan
Khairallah bahwa Irak memulai peperangan mencapai tiga tuntutan pokok yang
tidak dapat dicapainya dengan cara lain. Pertama Irak menuntut kedaulatan atas
seluruh Shatt al-Arab. Menurut perjanjian Algiers tahun 1975 perbatasan
ditetapkan di tengah perairan dan navigasi akan diatur bersama. Kedua dan
ketiga pulau kecil di Selat Hormuz yang diduduki Iran sejak 1971 harus
dikembalikan kepada kedaulatan Arab. Ketiga Iran harus melindungi hak-hak
minoritas Arab di propinsi Khuzestan oleh pihak Arab disebut Arabistan,
mayoritas penduduknya adalah Arab krisis teluk dimaksudkan Irak untuk
menjatuhkan rezim Khomeini.
Jalannya Perang Irak-Iran (berlangsung
pada tahun 1980-1988)
Pada tahun 1979 terjadi Revolusi Islam Iran dimana
Khomeini memimpin revolusi tersebut. Pemimpin revolusi Islam di Iran yaitu,
Khomeini yang memiliki impian untuk menyebarkan pengaruh revolusinya ke
negara-negara Arab lainnya. Saddam Hussein merasa khawatir dengan revolusi
tersebut hal itu dikarenakan posisi wilayah Irak yang bersebelahan dengan Iran,
penduduknya sebagian beraliran Syi’ah, dan menganggap revolusi ini menghambat
ambisinya untuk menjadi kekuatan dominan di Arab.
Jalannya perang ini terbagi dalam beberapa periode antara
lain sebagai berikut :
1.
Periode
Tahun 1980-1982 (Penyerbuan oleh Irak)
Irak
mempunyai sasaran yang jelas terhadap Iran. Ada dua objektif Irak dalam
serangannya ke Iran yaitu:
a.
Menguasai
wilayah-wilayah strategis serta kaya minyak di Iran.
b.
Mencegah
tersebarnya revolusi Islam di wilayah tersebut.
Dalam serangannya, Irak menginginkan kemenangan
atas negara Iran dengan memanfaatkan situasi internal Iran yang masih belum
stabil pasca revolusi Islam. Irak berharap bahwa masyarakat di Iran akan
menyalahkan pemerintahan baru Iran dan kemudian sebagian dari mereka terutama
dari golongan Arab Sunni akan membelot kepada Irak. Berikut serangan-serangan
yang dilancarkan Irak terhadap Iran adalah sebagai berikut :
1)
Pada
tanggal 22 September 1980 jet-jet tempur Irak menyerang 10 pangkalan udara
milik Iran dengan tujuan menghancurkan pesawat tempur Iran di darat taktik yang
dipelajari dari kemenangan Israel atas Arab dalam Perang 6 Hari. Serangan dari
pasukan udara Irak berhasil menghancurkan gudang amunisi serta jalur
transportasi darat, namun sebagian besar pesawat Iran tetap utuh karena terlindung
dalam hanggar yang terproteksi khusus. Kegagalan Irak menghancurkan
pesawat-pesawat tempur Iran dalam serangan kejutan tersebut memberi peluang
bagi Iran untuk melancarkan serangan udara balasan ke Irak.
2)
Pada
tanggal 23 september 1980 Irak melakukan serangan darat ke wilayah Iran dari 3
front sekaligus. Inti dari serangan tersebut adalah untuk menguasai Khuzestan
dan Shatt al-Arab dimana 4 dari 6 divisi pasukan Irak dalam penyerbuan dikirim
untuk menguasai kedua wilayah tersebut. Sisanya dipecah jadi 2 untuk menguasai
front utara (Qasr-e Shirin) dan front tengah (Mehran) untuk mengantisipasi
serangan balik yang mungkin dilakukan oleh Iran. Hasilnya usai serangan
mendadak itu Irak berhasil menguasai wilayah Iran seluas 1.000 km persegi.
Bulan November 1980 pasukan Irak melancarkan serangan ke 2 kota penting yang
strategis di Iran selatan, Shabadan dan Khorramshahr. Dalam penyerbuannya,
pasukan Irak mendapat perlawanan sengit dari pasukan Pasadan (Garda Revolusi)
Iran. Kedua kota tersebut akhirnya berhasil dikuasai Irak pada tanggal 10
November 1980.
Berikut ini
beberapa serangan balasan dari Iran terhadap serangan Irak :
1)
Pada
awal tahun 1981, Iran tertekan sempat berusaha melakukan serangan balasan
kepada Irak, namun gagal karena presiden Iran, Bani Sadr, nekat memimpin
langsung pasukan reguler Iran sekalipun dia hanya memiliki pengetahuan militer
yang sangat minim. Ia mengirimkan 3 resimen pasukan reguler tanpa didukung oleh
Pasadar dan tidak memperhitungkan waktu serangan di waktu hujan yang akan bakal
menyulitkan suplai logistik. Akibatnya, pasukan Iran dikepung pasukan Irak dan
banyak dari kendaraan lapis baja Iran hancur.
2)
Pesawat-pesawat
F-4 milik Iran melakukan serangan ke wilayah Irak dan efektif berhasil
melumpuhkan sejumlah titik penting di wilayah Irak. Keberhasilan tersebut
membuat pasukan udara Iran terlihat lebih superior dibanding pasukan udara
Irak. Namun, kurangnya amunisi dan suku cadang yang hanya bisa didapatkan dari
AS mantan sekutu Iran yang berbalik memusuhi mereka pasca revolusi Islam
membuat Iran lebih banyak memakai helikopter yang dipasangi persenjataan darat
sebagai pendukung dari udara.
2.
Periode
Tahun 1982-1984 (Titik Balik Mundurnya Irak)
Tak disangka militer Irak yang tadinya
dianggap tak terkalahkan oleh militer Iran teranyata situasi bisa berubah.
Titik balik bagi Iran terjadi karena Iran tidak tinggal diam dan segera
melakukan serangan dengan berbagai Operasi Militer, antara lain:
a.
Pada
bulan Maret 1982, dalam operasi militernya di bawah kode sandi Operasi
Kemenangan tak dapat disangkal (Operation
Undeniable Victory). Dalam operasi militer, pasukan gabungan Pasadan-Basij
milik Iran berhasil menembus garis depan pasukan Irak yang sebelumnya dianggap
tidak bisa ditembus dan memecah pasukan Irak di utara & selatan Khuzestan
sehingga pasukan Irak terpaksa mundur. Hasil dari operasi ini antara lain
sebagai berikut:
1)
Bulan
Mei 1982, Iran berhasil merebut kembali wilayah Khorramshahr. Dalam pertempuran
di wilayah tersebut, Irak kehilangan 7.000 tentara, sementara Iran 10.000
sehingga menjadikan pertempuran itu sebagai salah satu pertempuran paling
berdarah dalam inisiatif serangan balik Iran.
2)
Sejak
kemengangan tersebut, Iran berganti menjadi pihak menekan Irak dan pada bulan
Juni berhasil mendapatkan kembali seluruh wilayahnya yang sebelumnya dikuasai
oleh Irak.
3)
Saddan
Hussein yang melihat bahwa moral pasukannya sudah terlanjur runtuh akibat
serangkaian kekalahan melawan Iran pun menyatakan akan segera menarik seluruh
pasukannya dari Iran dan menawarkan gencatan senjata kepada Iran. Tawaran
gencatan senjata itu mencakup pembayaran ganti rugi perang sebesar 70 juta
dollar AS oleh negara-negara Arab. Iran menolak tawaran gencatan senjata
tersebut dan menyatakan bahwa mereka akan menyerbu Irak dan tidak akan berhenti
sampai rezim yang berkuasa di Irak digantikan oleh rezim pemerintahan republik
Islam.
b.
Pada
bulan Juli 1982, Iran melancarkan serangannya ke kota Basra, Irak, di bawah
kode sandi “Operasi Ramadhan”. Dalam serangan tersebut, puluhan ribu anggota
Basij dan Pasdaran mengorbankan diri mereka dengan berlari melewati ladang
ranjau untuk memberi jalan bagi tank-tank di belakangnya di mana selain
menghadapi bahaya ranjau, mereka juga dihujani tembakan artileri pasukan Irak.
Irak berhasil mencegah Iran merengsek lebih jauh berkat
ketangguhan persenjataannya di garis pertahana, namun Irak juga harus
kehilangan jumlah kecil wilayah karena dikuasai Iran. Keberhasilah Iran memukul
balik Irak dan berbalik menjadi menjadi negara penyerbu membawa kekhawatiran
tersendiri bagi AS memutuskan untuk membantu Irak sejak tahun 1982. Presiden AS
Ronald Reagan menyatakan bahwa AS akan berusaha dengan cara apapun untuk
mencegah Irak kalah. Bantuan Amerika Serikat beserta negara-negara sekutunya ke
Irak yang diketahui mencakup bantuan teknologi, alutsista dan intelijen.
Dukungan Irak datang juga dari Uni Soviet dan Liga Arab karena keberpihakan
terang-terangan AS ke Irak maka cukup mengejutkan ketika AS diketahui juga
membantu Iran dengan jalan menjual persenjataan ke Iran secara diam-diam. Hal
tersebut dilakukan untuk mencegah dominasi dari pihak pemenang di kawasan
tersebut.
c.
Penyerbuan
tahun 1983 Iran melakukan 3 penyerbuan besar yang disusul 2 penyerbuan lainnya
dengan mengerahkan ratusan ribu personil tentaranya. Iran sempat berhasil
menembus garis pertahanan Irak, namun Irak berhasil memukul balik Iran dengan
melakukan serangan udara mendadak secara besar-besaran. Hingga akhir tahun 1983
tercatat 120.000 personil Iran dan 60.000 personil Irak tewas dalam peperangan.
d.
Pada
bulan Februari 1984, Iran menggelar “Operasi Fajar (Operation Dawn) 5 dan 6 yang
ditargetkan ke kota Kutal-Amara dengan tujuan memotong jalur perairan yang
menghubungkan Baghdad dan Basra. Dalam kedua operasi militer itu Iran
mengerahkan 500.000 personil Basij dan Pasdaran. Pertempuran dalam Operasi
Fajar sekaligus menjadi seperti head-to-head kekuatan militer yang dominan di
masing-masing negara. Iran unggul jumlah tentara tapi kekurangan alutsista
pendukung macam pasukan udara dan artileri sementara Irak kalah jauh dalam hal
jumlah tentara tapi unggul dalam hal alutsista. Periode antara tanggal 29
Februari hingga 1 Maret merupakan salah satu episode pertempuran terbesar dalam
Perang Irak-Iran di mana dalam pertempuran itu, masing-masing pihak kehilangan
20.000 tentaranya. Bulan Februari hingga Maret 1984 di bawah kode sandi
“Operasi Khaibar” dengan memakai sejumlah serangan pendobrak ke Kota Basra.
Agresi militer tersebut berujung keberhasilan pasukan Iran merebut Pulau Majnun
yang kaya minyak. Irak sempat melancarkan serangan balik untuk merebut wilayah
tersebut termasuk memakai senjata kimia. Namun pasukan Iran tetap berhasil
mempertahankan pulau tersebut hingga menjelang akhir perang. Walaupun berada
pada posisi tertekan, pada tahun 1985 Irak masih sempat melakukan penyerbuan
balik ke Iran dengan menyerang Tehran dan kota-kota penting di Iran lainnya
usai mendapatkan bantuan finansial dari negara-negara Arab sekutunya dan
bantuan alutsista terbaru dari Uni Soviet, Cina, dan Perancis. Serangan Irak
tersebut tidak membawa perubahan yang signifikan dalam arah peperangan dan
sekalipun wilayahnya diserang di tahun itu Iran tetap melakukan penyerbuan ke
wilayah Irak di bawah kode sandi “Operasi
Badr”.
3.
Periode
Tahun 1984-1988 (Perang Tanker)
Pada tahun 1984, Irak yang baru mendapat
bantuan pesawat tempur Super Etentard terbaru dari Perancis melakukan operasi
militer di laut mulai dari muara Shatt el-Arab hingga pelabuhan Iran di
Bushehr. Target dari operasi militer tersebut adalah semua kapal yang bukan
berbendera Irak di wilayah operasi militer, baik itu kapal berbendera Iran
maupun kapal netral yang dari atau menuju Tehran. Tujuannya adalah untuk
memblokade ekpsor minyak Iran dan mempengaruhi ekonominya sehingga Iran mau
berunding dengan Irak. Kebijakan militer Irak tersebut lalu mengawali babak
baru dalam perang yang dikenal sebagai Perang Tanker.
4.
Periode
Tahun 1987-1988 (Ikut Campurnya AS dampak dari Tanker)
Dampak dari
perang Tanker, sitasi perang Tanker yang semakin membabi buta karena ikut
menargetkan kapal-kapal tanker dari negara-negara yang netral membuat Kuwait
meminta bantuan pihak internasional pada tahun 1986. Uni Soviet adalah negara
pertama yang merespon dengan mengirimkan kapal-kapal perangnya untuk mengawal
kapal tanker Kuwait. Kebijakan Uni Soviet lalu diikuti oleh AS tahun 1987
sebenarnya sudah didekati Kuwait lebih dulu. faktor pendorong utama ikut
campurnya Amerika Serikat dalam Perang teluk I (perang Irak-Iran) sebenarnya
disebabkan karena kapal perangnya ditenggelamkan oleh pesawat tempur Irak
sehingga 13 awak kapalnya meninggal. Irak meminta maaf kepada AS sambil
mengatakan bahwa itu adalah kecelakaan dan permintaan maaf Irak diterima oleh
AS. Ironisnya, sesudah insiden itu AS justru menyalahkan Iran dengan alasan
Iranlah yang menyebabkan peperangan semakin berkobar. Tuduhan AS lalu diikuti
tindakan AS mengirim armada lautnya untuk mengawal kapal-kapal tanker milik
Kuwait yang mengibarkan bendera AS.
Tujuan utama
AS dalam penerjunan armada lautnya di sekitar Teluk adalah untuk mengisolasi
Iran dan menjaga agar kapal-kapal bebas berlayar di sana. AS baru melancarkan
serangan langsung ke Iran dengan menghancurkan kilang minyak Iran di ladang
minyak Rostam setelah pasukan Iran menenggelamkan kapal tanker Kuwait
berbendera AS, Sea Isle City. Setahun kemudian, tepatnya bulan April 1988, AS
kembali menyerang kilang minyak & kapal-kapal perang Iran setelah kapal
perangnya, USS Samuel B. Roberts, tenggelam akibat ranjau laut Iran.
5.
Periode
Tahun 1988 (Genjatan Senjata)
Pada tahun
1988, arah pertempuran mulai kembali ke arah Irak di mana Irak berhasil meraih
beberapa kemenangan penting atas Iran. Dalam pertempuran pada kurun waktu
tersebut, Irak juga berhasil merebut sejumlah besar alutsista milik Iran dan
menguasai kembali Semenanjung Al-Faw serta Kepulauan Majnun yang kaya minyak.
Perang akhirnya berakhir setelah Iran menerima Resolusi Dewan Keamanan PBB 598
dan secara resmi mengakhiri perang yang sudah terjadi selama 8 tahun pada
tanggal 20 Agustus 1988.
Komentar
Posting Komentar